PERISTIWA ISRA WAL MI'RAJ
Materi : Peristiwa Isra dan Mi'raj
Ada banyak pendapat terkait waktu Isra dan Mi’raj. Namun, pendapat yang dikuatkan adalah bahwa Isra dan Mi’raj terjadi antara satu atau dua tahun sebelum Hijrah. Hal ini karena peristiwa tersebut terjadi setelah Khadijah wafat, dan wafatnya diketahui terjadi pada tahun sepuluh kenabian. Peristiwa ini merupakan salah satu hiburan bagi Rasulullah setelah tahun kesedihan.
Pada malam itu, Rasulullah berangkat dalam semalam menuju Jerusalem (Kota Al-Quds) untuk bertemu dengan para Nabi terdahulu sebagai bentuk kasih sayang Allah pada perjuangan Rasulullah. Rasulullah berangkat dengan suatu tunggangan bernama Al-Buraq. Tunggangan tersebut diikat pada gelang pintu masjid setelah tiba di Baitul Maqdis. Rasulullah kemudian memimpin mereka sebagai imam melaksanakan shalat berjamaah.
Setelah berbahagia dengan Isra, Rasulullah diberangkatkan Mi’raj. Rasulullah diangkat ke langit ke tujuh diantarkan oleh Jibril. Setiap memasuki langit berikutnya, Jibril meminta izin pada penjaganya untuk membukakannya. Pada langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam alaihisalam. Beliau juga ditampakan dengan arwah para syuhada di kanannya dan orang yang sengsara di kirinya. Pada langit kedua, Rasulullah bertemu dengan Nabi Yahya dan Isa bin Maryam alaihumsalam kemudian saling memberi salam. Pada langit ketiga, Rasulullah bertemu dengan Nabi Yusuf alaihisalam dan saling memberi salam. Pada langit keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris alaihisalam dan saling memberi salam. Pada langit kelima, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun alaihisalam dan saling memberi salam. Pada langit keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa alaihisalam dan saling memberi salam. Kali ini Nabi Musa Alaihisalam menangis karena umat Rasulullah ternyata lebih banyak dari Nabi Musa Alaihisalam yang selama ini umatnya terbanyak. Pada langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihisalam dan saling memberi salam.
Rasulullah kemudian dinaikan ke Sidratul Muntaha kemudian diangkat lagi ke hadapan Allah. Rasulullah didekatkan dengan sangat dekat sehingga sejarak dua busur panah atau lebih dekat lagi. Barulah Allah mewahyukan untuk memerintahkan Rasulullah mengerjakan shalat lima puluh waktu. Rasulullah kemudian diturunkan dan bertemu kembali dengan Nabi Musa alaihisalam. Nabi Musa meminta Rasulullah naik kembali untuk meminta keringanan karena umatnya tidak akan sanggup. Rasulullah kemudian melihat Jibril minta persetujuannya dan kemudian Jibril mengantarkan Rasulullah naik kembali. Hal ini terus berulang sampai lima waktu shalat dan Rasulullah terlalu malu untuk minta keringanan lagi. Setelah menjauh, terdengar seruan dari Allah bahwa perintahnya telah difardhukan dan telah memberi keringanan pada hamba Allah.
Pada perjalanan ini Rasulullah juga diperlihatkan dengan berbagai macam hal. Rasulullah diminta memilih antara susu atau arak dan Rasulullah memilih susu, melihat empat buah sungai surga, Malaikat Malik penjaga neraka, arwah yang sedang diadzab, dan Rasulullah ditampakan terkait kafilah dagang Makkah yang sedang dalam perjalanan pulang dari Syam dan sempat kehilangan untanya.
*Menyampaikan Kabar Isra dan Mi’raj*
Rasulullah tiba pulang pada pagi harinya sehingga baru bisa melaksanakan perintah shalat lima waktu saat Dzuhur. Rasulullah sebagai utusan Allah yang amanah segera menyampaikan berita kejadian semalam. Pada mulanya, berita ini sangat menggemparkan karena sangat sulit diterima akal. Bahkan kaum muslimin saja masih belum sepenuhnya mantap hati untuk segera membenarkan Rasulullah bahkan ada yang sampai keluar Islam.
Rasulullah sepulang dari perjalanan tersebut duduk di sekitar Ka’bah. Karena penasaran, Abu Jahal yang melihat Rasulullah bertanya terkait apa yang terjadi. Rasulullah menceritakan peristiwanya. Abu Jahal yang ingin mengolok-oloknya bertanya kesediaan Rasulullah menyampaikan hal ini di depan khalayak khususnya petinggi Quraisy. Rasulullah pun menceritakan hal tersebut setelah menyanggupi permintaan Abu Jahal. Berita ini sangat mengherankan banyak orang. Akhirnya, Abu Jahal yang kegirangan melihat kaum muslimin kebingungan segera mencari Abu Bakar dan menceritakannya pada Abu Bakar dengan harapan Abu Bakar juga kebingungan. Namun ternyata Abu Bakar membenarkan berita tersebut bila benar dikatakan Rasulullah. Abu Bakar segera menjumpai Rasulullah dan bertanya terkait peristiwa tersebut secara rinci. Abu Bakar segera bersaksi bahwa Rasulullah benar dan mengakui kerasulannya. Di sinilah Rasulullah memberikan gelar Ash-Shiddiq pada Abu Bakar yang pembenarannya kemudian waktu diikuti kaum muslimin yang lain.
Para petinggi Quraisy membuat berita ini viral dengan tuduhan pendusta pada Rasulullah. Mereka menegaskan bahwa perjalanan ke Baitul Maqdis dalam semalam adalah hal yang mustahil. Petinggi Makkah mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah sekali pun ke Baitul Maqdis sebelumnya. Rasulullah diminta menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis pada khalayak ramai. Rasulullah yang tidak bisa menjelaskan sempurna apa yang ia lihat pada gelap malam di Baitul Maqdis kemudian ditampakan oleh Allah gambarannya. Oleh karena itu, Rasulullah dapat menjelaskan dengan sangat baik dan tak terbantahkan ciri-ciri Baitul Maqdis dan para pedagang Quraisy tidak bisa membantah Rasulullah sedikit pun. Rasulullah juga mengabarkan bahwa ada kafilah dagang dari Makkah yang sedang dalam perjalanan pulang, sempat kehilangan untanya di tengah jalan, dan beberapa hari lagi akan segera tiba di Makkah. Semua itu ternyata terbukti saat mereka berjumpa dengan kafilah dagang tersebut dan bertanya terkait untanya yang hilang. Semua fakta itu tidak terbantahkan namun petinggi Quraisy tetap memilih kekafiran karena kebencian mereka terhadap risalah dan harga diri mereka sebagai petinggi suku Quraisy dan pemimpin kabilah-kabilahnya dalam bersaing dengan kabilah Bani Hasyim.
Pada mulanya, berita ini sangat menggemparkan karena sangat sulit diterima akal. Bahkan kaum muslimin saja masih belum sepenuhnya mantap hati untuk segera membenarkan Rasulullah. Namun, hal ini berbeda denga Abu Bakar radhiallahu anhu. Rasulullah sepulang dari perjalanan tersebut duduk di sekitar Ka’bah. Karena penasaran, Abu Jahal yang melihat Rasulullah bertanya terkait apa yang terjadi. Rasulullah menceritakan peristiwanya. Abu Jahal yang ingin mengolok-oloknya bertanya kesediaan Rasulullah menyampaikan hal ini di depan khalayak khususnya petinggi Quraisy. Rasulullah pun menceritakan hal tersebut setelah menyanggupi permintaan Abu Jahal. Berita ini sangat mengherankan banyak orang. Akhirnya, Abu Jahal yang kegirangan melihat kaum muslimin kebingungan segera mencari Abu Bakar dan menceritakannya pada Abu Bakar dengan harapan Abu Bakar juga kebingungan. Namun ternyata Abu Bakar membenarkan berita tersebut bila benar dikatakan Rasulullah. Abu Bakar segera menjumpai Rasulullah dan bertanya terkait peristiwa tersebut secara rinci. Abu Bakar segera bersaksi bahwa Rasulullah benar dan mengakui kerasulannya. Di sinilah Rasulullah memberikan gelar Ash-Shiddiq pada Abu Bakar yang pembenarannya kemudian waktu diikuti kaum muslimin yang lain.
*Surat Al-Isra*
Dalam Quran, peristiwa Isra dikisahkan dalam surat Al-Isra ayat satu yang padahal ayat-ayat berikutnya menceritakan terkait Bani Israil yang banyak merusak agama Allah. Ayat peristiwa Isra Mi’raj lainnya malah ada di Quran Surat An-Najm. Hal ini dipandang ulama sebagai pertanda bahwa peran Bani Israil memimpin bumi dalam tauhid sudah tergantikan. Kiblat Bani Israil yang mengarah ke Al-Quds diambil kepemimpinannya oleh Rasulullah secara isyarat dalam peristiwa Isra. Kini, peran pewaris agama Ibrahim dikukuhkan hanya pada Rasulullah saja.
- Fakir ilmu -π€ππππ
Comments
Post a Comment