EMPOWERMENT : HIKMAH DALAM KISAH
EMPOWERMENT : HIKMAH DALAM KISAH
Pemateri :
_Ustadzah Muna Al - Munawwar_
Untaian kata yang indah yang teruntai karena jiwa - jiwa yang indah. Jiwa yang bersama menggapai ridho Allah, membenahi diri dengan menggunakan akal sehat untuk berpikir dan mencari kebahagiaan ditempat yang paling abadi, tempat yang tidak ada lagi kematian didalamnya, disana kelak akan terdengar, "Wahai ahli surga tidak akan ada lagi kematian ! Wahai ahli neraka tidak akan ada lagi kematian !" Mereka ahli surga ketika mendengar seruan itu akan berbahagia sedangkan para penghuni neraka, hancur luluh dipenuhi dengan penyesalan akan dosanya.
Pembahasan :
Assalamu'alaikum Wanita saat ini sudah seperti apa dirimu ? Apa yang engkau kerjakan ? apa yang menyibukkan dirimu saat ini ? kesibukan yang membawamu pada kemuliaan ? ataukah kesibukan yang membawamu pada kehinaan ? jika memang kesibukan itu membawamu pada kemuliaan, apakah kemuliaan itu hanya tentang dunia ? ataukah tentang dunia ?
Assalamu'alaikum Wanita, yang katanya ingin bertemu dengan Allah ? berdiri tepat dibelakang Sang ratu surga, Sayyidah Fatimah. Sungguh mulia mimpi kita kini sedangkan gaya pakaian yang engkau gunakan bahkan tak mencerminkan wanita yang telah dijamin surga. Kau berbangga diri dengan perhiasan dunia, sedangkan panutan yang Allah berikan padamu adalah seseorang yang bahkan membuang kecintaannya pada dunia. Siapa yang engkau ikuti itu wahai wanita ? mengapa engkau begitu bangga mengikuti mereka ? siapa mereka ? Adakah kau bangga mengikuti wanita - wanita mulia yang memperjuangkan surga, mengikuti jejak Rasullullah ? Ataukah kau bahkan tak mengenal siapa - siapa dari mereka ?
Assalamu'alaikum Wanita, Saat ini siapa dirimu ?
Tanyakan ini pada dirimu sebelum engkau kembali kepada kehadiratMu.
Sungguh ada suatu penyakit besar yang membuat terkikisnya kecintaan kita kepada akhirat, ialah penyakit bangga ketika mengikuti seorang wanita yang berbangga diri kepada perhiasan dunia. Namun tiada memiliki rasa bangga terhadap para wanita yang berjalan di atas kebenaran semata. Boleh jadi saat ini bahkan kita merasa bangga mengikuti mereka para wanita yang memamerkan kecantikannya, memamerkan keelokannya, musuh - musuh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sedangkan kita tidak bangga kepada para wanita yang mampu menjaga dirinya dari pandangan dunia. Wahai wanita yang merindukan surga, sadarkah kita memiliki penyakit itu ? Tidakkah kita merasa bahwa kita telah jauh dari kemuliaan yang sesungguhnya ?
Kita para wanita telah kehilangan arti pengorbanan yang dicontohkan Sayyidah Khadijah, kita telah kehilangan arti dari keimanan yang kokoh yang dicontohkan Sayyidah Aisyiah, kita telah kehilangan arti keteguhan hati yang dicontohkan Sayyidah Mariam, kita telah kehilangan arti dari kerelaan hati yang dicontohkan Sayyidah Hajar. Mereka wanita - wanita mulia yang Allah tinggikan derajatnya karena keteguhan hati mereka, keimanan yang kokoh tak tumbang dan tak lekang termakan waktu.
Kini kita para wanita banyak sekali disibukkan dengan dunia, berbangga diri dengan kecantikan yang terpoles, berbangga diri dengan pakaian yang dibuat dengan gaya. Bahkan mereka pula mulai melupakan hakikat dari sebuah pernikahan, bahtera rumah tangga yang di lakukan hanya untuk menyempurnakan ibadah dan menggapai ridho Allah. Mereka justru disibukkan dengan segala persiapan yang dipenuhi dengan kemegahan tanpa tau kebenaran dari tujuan pernikahan, mereka tidak mengusahakan diri untuk mempersiapkan membangun sebuah rumah tangga dalam hakikat sebenarnya sebagaimana rumah tangga Rasullullah dan Sayyidina Ali. Adapun kini banyak sekali para wanita yang merasa bahwa tidak memiliki anak merupakan sebuah aib terbesar, tanpa mereka ketahui dan mau memahami bahwa tujuan sebenarnya memiliki seorang anak, tujuan dari Allah memberikan titipan seorang anak, yakni hanya untuk dibesarkan untuk mengabdi kepada Tuhannya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagaimana Sayyidah Hana, seorang ibu yang penuh dengan kerelaan menyerahkan kepada Allah dan RasulNya. Kisah ini tertera jelas dalam firman Allah, Al - Qur'an, dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala befirman,
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"( Ingatlah ), ketika istri `Imran berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa ( janin ) yang dalam kandunganku ( kelak ) menjadi hamba yang mengabdi ( kepada-Mu ), maka terimalah ( nazar itu ) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."" ( QS. Ali - 'Imran [ 3 ] 35 )
"Memiliki seorang anak didunia sejatinya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya, kelak mereka ( orang tua ) akan melihat dan menyaksikan kenikmatan yang paling sebenarnya ketika telah mereka raih surga daripada ketataan dan pengabdian anak mereka."
"Urusan dunia tidak akan cukup hanya dengan menengadahkan tangan semata perlu usaha yang besar untuk mendapatkan semuanya, itulah yang selalu engkau pahami dan engkau yakini sedangkan pada setiap urusan - urusan akhirat cukuplah bagimu untuk sekedar menengadahkan tangan tanpa adanya sebuah usaha. Engkau habiskan seluruh tenaga, usia, kesempatan, dan waktu kepada sesuatu yang telah Allah jamin didalamnya ( dunia ) , sedangkan engkau habiskan waktu sisamu kepada sesuatu yang telah Allah jamin didalamnya ( akhirat ). Engkau berikan waktu sisa untuk agamamu sedangkan harapan - harapan yang kau miliki begitu mahal kepada akhirat, berkumpul dengan Allah, bertentangga dengan Rasullullah, berdiri di belakang para wanita - wanita mulia, tapi lihatlah wahai diri, lihatlah dirimu sedikitpun tak ada pembuktian untuk mewujudkan harapan tinggi mu itu."
"Urusan Akhiratlah yang sesungguhnya engkau sertai dengan usaha yang besar, tidak cukup hanya dengan menengadahkan tangan kehadapan Rabbmu, karena Allah, Tuhanmu tak pernah sekalipun menjamin akhirat bagi dirimu, sedangkan pada urusan dunia, tak perlu bagimu untuk menghabiskan seluruh waktumu disana, mengalirkan seluruh peluh keringatmu yang padanya telah Allah berikan ketetapan didalamnya."
Lihatlah mereka wahai para wanita !! Mereka adalah wanita - wanita mulia yang berjuang diatas agama Allah, sebagaimana kisah Ummayah binti Qais, yang pada saat umurnya masih begitu belia, beliau bermohon kepada Rasullullah untuk membantu dan membela perjuangan Rasullullah, ia merelakan dirinya yang bahkan pada saat itu belum mencapai keadaan balighnya untuk ikut berperang menjadi juru rawat yang merawat para prajurit yang terluka. Telah tumbuh dalam dirinya semangat juang yang tiada Tara, inilah wahai wanita cinta yang sebenar - benarnya, cinta kepada sang Aulia, Rasullullah, cinta kepada Rabbnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Bahkan ada seorang wanita yang dimalam pengantinnya berperang berjuang bersama dengan Rasullullah, ia mencari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ia jadikan seluruh kesempatan hidupnya hanya untuk berjuang di jalan Allah, yang bahkan dari pernikahannya tak pernah sedikitpun membuat ia lalai kepada aturan dan jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Lihatlah mereka wahai wanita, lihatlah Ummu Hakim binti Haris, yang merelakan malam pengantinnya hanya untuk Allah semata. Itulah wanita yang mengerti daripada tujuan hidupnya.
Nusaibah binti Ka'ab yang mengikuti perang Uhud dan mengabdikan dirinya untuk merawat para prajurit yang terluka di perang tersebut, pada saat itu beliau melihat seorang musuh Rasullullah yang menantang kekasih Allah, membuat Nusaibah yang tengah merawat luka - luka para prajurit, ia mengambil pedang untuk membunuh musuh Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam hingga membuatnya dirinya sendiri terluka penuh darah dibahunya sampai Abu Bakar berkata, "Dihari itu aku tidak melihat selain Nusaibah yang melindungi Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam."
Ialah seorang ibu yang mendidik anaknya untuk mengabdikan dirinya hanya kepada Allah dan Rasullullah. Tirulah mereka wahai wanita, penuhilah dirimu dengan cinta karena cintalah yang akan mengkokohkan imanmu, cahaya iman yang terpancar dari dirimulah yang akan menjadi langkah perubahan bagi anak, suami beserta keseluruhan keturunanmu.
Cinta adalah kekuatan yang sesungguhnya, yang membawamu pada perubahan dan jalan kebenaran.
"Hidup mu diibaratkan sebuah telur, apabila telur itu pecah karena kekuatan dari luar maka hancurlah hidupmu itu, sedangkan apabila telur itu pecah karena kekuatan dari dalam maka bermulalah hidupmu, karena sesungguhnya semua kehidupan diawali dari dalam."
"Kita mengatakan pernikahan itu ibadah, namun kita memulai langkah tersebut dengan kemaksiatan dan kehinaan."
"Jadilah seorang wanita yang bertanggung jawab atas dirimu ( atas kemuliaan mu ), atas suamimu, atas anak - anakmu, sebagaimana Allah memerintahkan kita wahai wanita untuk menjaga dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka."
Fakir Ilmu 🥀
Comments
Post a Comment