AKHLAK - USTADZAH SAMIRA AL-HABSYI
AKHLAK 1
Ustadzah Samira Al - Habsy
Habib Umar bin Hafidz dilahirkan dari silsilah keluarga yang shalih yang mana kebanyakan ulama - ulam besar memang terlahir dari keluarga - keluarga yang alim dan shalih inilah yang menjadi pedoman bagi kita, ketika kita menginginkan keturunan yang baik, shalih dan shalihah maka hendaknya kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu, menshalihkan diri kita dihadapan Allah terlebih dahulu. Pernah suatu hari seseorang Bertanya kepada Hubabah Zahro, ibunda dari Habib Umar bin Hafidz, "Hubabah bagaimanakah caranya menjadi ibu sebagaimana dirimu mendidik anak - anakmu ?" Hubabah pun menjawab, "Bertakwalah kalian kepada Allah."
Dari Habib Umar bin Hafidz lah banyak sekali murid - murid lulusan Tarim yang menjadi seorang pendakwah, beliau selalu mengajarkan kepada para muridnya, bahwa hendaknya menyampaikan walaupun 1 ataupun 2 hadist, dengan niat membenahi diri kita dan memberikan kebaikan kepada orang lain In Syaa Allah kitapun akan mendapatkan keberkahannya.
Diceritakan beliau memiliki sebidang tanah dikota Tarim, yang mana tanah tersebut merupakan tanah dari sang Ayah, namun suatu hari ada seseorang yang mengaku bahwa tanah tersebut merupakan miliknya bukan tanah Habib Umar, padahal kala itu seluruh orang Tarim mengetahui bahwa itu merupakan milik Habib Umar, hingga ada seseorang yang mengatakan kepadanya untuk membuktikan kepada Habib Umar dan menemui beliau. Orang ini mengetuk pintu rumah Habib Umar, yang mana kala itu Sayyid Salim lah yang membuka pintu tamu dari sang Ayah dan langsung memberi tahu sang ayah, Habib Umar dengan penuh senyuman menyambut sang tamu, beliau memberikan pelayanan terbaik sebagaimana seorang tamu yang layak, orang tersebut justru tidak merasa bahagia, ia terus memarahi dan tetap keras kepala bahwa tanah Habib Umar merupakan tanah milik dirinya.
Habib Umar hanyalah mendengarkan saja, baru ketika orang tersebut berhenti, beliau pergi memasuki kamarnya dan menyerahkan surat tanah kepada orang tersebut dengan suka rela hingga membuat orang ini pun terdiam. Sayyid Salim yang melihat hal tersebut mengatakan kepada ayahnya, "Wahai Abah seluruh orang Tarim mengetahui bahwa itu merupakan tanah milikmu, tanah itu merupakan hakmu lalu mengapa engkau biarkan orang tersebut mengambilnya begitu saja ?" Habib Umar dengan keikhlasan mengatakan kepada anaknya, "Wahai Salim, itu hanyalah sebidang tanah, jangan sampai hanya karena sebidang tanah kita memusuhi saudara semuslim kita, mau berkata apa kelak ketika kita berada tepat dihadapan Allah."
"Seorang santri dimanapun keberadaannya pasti dikenal dengan ibadahnya yang rajin, Al - Qur'an yang tak pernah lepas daripada genggamannya. Sedangkan di Tarim seluruh penduduknya merupakan wali Allah, seluruh penduduknya merupakan Santri Tarim, bahkan seorang penyemir sol sepatu, seorang pedagang roti pun dikatakan merupakan wali Allah."
Tujuan daripada Al - Habib Umar bin Hafidz membangun Darul Musthofa diantaranya ada 3, yaitu :
1. Berbagi Ilmu Keislaman yang sesuai dan bersambung dengan sanad
2. Mensucikan diri dan memperbaiki akhlak
3. Memberikan kebaikan sebagaimana para Salafuna Shalih
"Seorang guru dan murid itu diibaratkan seperti imam dengan makmumnya, Imam tidak memerlukan niat agar makmum mau mengikutinya, sedangkan makmum jelas perlu memiliki niat yang berbeda untuk mengikuti imam."
Diceritakan pula, bahwa Habib Umar memiliki seorang murid yang begitu nakal dan sulit untuk diarahkan sampai karena kenakalannya, murid inipun dipulangkan kembali kepada negara asalnya, dikisahkan murid tersebut berasal dari Indonesia. Ketika murid tersebut berpisah daripada gurunya, bukannya menjadi baik, malah kehidupan yang dijalaninya semakin buruk, ia meninggalkan shalat wajib bahkan shalat Jum'atnya. Hingga suatu ketika selama 5 hari murid ini kembali menjalankan shalat Jum'at, dan shalat 5 waktu, orang - orang yang telah mengenal dan merasakan perubahannya pun merasa terrheran - heran, sahabatnya pun sampai bertanya mengenai perubahannya yang langsung murid itu jawab, "Sungguh selama 5 hari aku bermimpi mengenai Habib Umar yang mengatakan padaku, 'Lakukan Sekarang!!' berulang kali sampai membuatku ketakutan, ketika imanku kendur dan hendak melakukan kelalaian beliau selalu muncul kedalam mimpiku dan membuatku bertaubat kepada Allah." setelah mengatakan hal tersebut keesokannya murid tersebut pun dikatakan meninggal dunia. Ma Syaa Allah dari cerita ini terdapat hikmah, bahwa ikatan guru kepada muridnya itu selalu membekas dimanapun keberadaan sang murid, melalui Habib Umar murid tersebut pun meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah.
Pembahasan :
Khulukuna adalah akhlak kita, dimana akhlak ini yang membedakan antara perangai orang yang satu dengan yang lainnya. Maka dikatakan, "Jangan engkau menyangka ilmu bermanfaat dengan sendirinya, jikalah tidak dimahkotai dengan akhlak." Bahkan Habib Umar bin Hafidz mengatakan, "Jadikanlah ilmumu itu seperti garam, dan akhlak mu seperti tepung agar terasa enak Ketika dinikmati." Yang mana akhlak merupakan sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu, seseorang yang memiliki ilmu yang banyak namun kurang dalam akhlaknya, niscaya tidak akan ada pengaruh apapun baginya berbeda dengan seseorang
Beliau pula mengatakan, "Apabila kamu diberi akhlak yang terpuji maka kamu telah dipilih oleh Maha Sang Terpuji, Allah Subhanahu Wa Ta'ala." maka hendaknya kita bersyukur, dan lebih memperbaiki akhlak dengan Allah, dengan makhluk - makhluknya. Sebagaimana Rasullullah mengatakan, "Dan tidak aku dikirim oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk menyempurnakan akhlak atau Budi pekerti yang tinggi kepada manusia."
1. Akhlak kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
Dimana Allah merupakan zat yang paling pantas untuk mendapatkan perangai baik kepada Allah. Kita menyembah kepada Allah bukan sembarang menyembah, namun juga memiliki caranya, memiliki akhlaknya. Berbeda dengan seseorang yang beribadah tidak kepada Allah, mereka menyembah Tuhannya hanya sebatas kewajiban tidak lebih. Adapun akhlak kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yaitu :
1. Hendaknya Harus selalu merasa dalam pandangannya Allah Subhanahu Wa Ta'ala baik dilihat maupun tidak dilihat dan kita ikhlas dalam berbuat karena Allah baik dzahir maupun batin, melakukan akhlak ini apabila melihat dari segi teori memang terasa mudah, sedangkan ketika kita mempraktikkannya terasa begitu sulit. Sebagaimana yang telah kita ketahui, ketika kita mengucapkan bismillah dalam melakukan sesuatu dengan maksud menghadirkan Allah, yang saat kita melakukan perbuatan haram maka akan mengubah bismilah tersebut menjadi haram karena perbuatannya. Terkadang bahkan masih banyak sekali orang yang melakukan suatu perbuatan baik didepan semua manusia, namun ketika dirinya tidak dipandang maka munculah keinginan buruknya, ia tidak menyadari bahwa sungguh Allah tak pernah berhenti memandang kita.
Dan hendaknya kita ikhlas dalam berbuat sesuatu kepada Allah baik dzahir maupun batin, entah itu dipandang maupun dipandang, entah dalam keramaian maupun dalam kesunyian, dipandangan dan penglihatannya hanya ada Allah semata, ia bertindak karena Allah dan berbuat hanya karena Allah. Tak peduli mau seseorang itu mau mencaci maki dan membicarakan kita, kita tetap tidak bergeming, karena sungguh tanpa kita melakukan sesuatu pembalasan atas penghinaan tersebut tak akan hilanglah pahala yang Allah beri dari diri kita. Walaupun ikhlas itu terasa tak mudah, maka berusahalah sedikit dan perlahan sampai kepada derajat para Mukhlisin.
2. Hendaknya memiliki rutinitas maupun kebiasaan Al - Qur'an setiap harinya, dengan mengusahakan mentadaburi dan memahami daripada isinya,
Sungguh Allah menurunkan Al - Qur'an kepada hambaNya sebagai pedoman kehidupan, bukan sekedar buku ataupun kitab bacaan yang ketika kita enggan membacanya maka kita enggan, dan ketika kita menyukai membacanya maka kita akan terus membacanya, tidak Kalamullah adalah Kalam Allah bukan sekedar pajangan yang terpajang lama hingga berdebu dalam kotak penyimpanan. Tanpa adanya Al - Qur'an maka kita tidak akan pernah memahami langkah - langkah selanjutnya dalam menghadapi keseharian dalam hidup, bagaimana kita melakukan sesuatu dalam kehidupan, bagiamana kita menggunakan kesempatan emas yang Allah berikan hingga kita tak menyesal di kemudian. Datanglah guru - guru yang mengajarkan kepadamu pemahaman Al - Qur'an. Imam Al - Haddad mengatakan, "Tidak seseorang dikatakan murid, sampai dia mendapati semuanya dalam Al - Qur'an."
"Sesuatu yang dibaca dengan hati, maka akan masuk kembali kedalam hati."
3. Berusaha untuk selalu khusuk dalam shalat dengan menghadirkan hati dan janganlah kalian shalat dengan berjamaah kecuali dalam keadaan udzhur,
Dikatakan dalam hadits Qudsi ketika seorang hamba dalam shalat mengucapkan "Allahuakbar !" niscaya Allah menghadap kepadanya dan mengatakan, "Wahai hambaku, adakah sesuatu yang lebih baik daripadaku ?" kemudian hamba itu berpaling, maka Allah mengatakan, "Wahai hambaku, adakah sesuatu yang lebih baik daripadaku ?" kemudian hamba itu berpaling untuk ketiga kalinya niscaya Allah pun berpaling darinya.
Orang yang tidak khusuk dalam shalat, dia diibaratkan seperti seseorang yang menghadap kepada Allah dan menghadiahkan Allah dengan kotak kosong atau kotak yang berisi bangkai. Dan usahakanlah untuk selalu melakukan shalat berjamaah, yang mana ketika shalat individu dihitung dan dinilai daripada kekhusukannya. Di antaranya dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”
Comments
Post a Comment