Pentingnya berguru dengan sanad ilmu & mudahnya mengetahui sanad guru kita
AQIDAH 2
_Ustadzah Muna Al - Munawwar_
Materi : Pentingnya berguru dengan sanad ilmu & mudahnya mengetahui sanad guru kita.
#Majlis Bale-bale
Semakin banyak zaman yang kita lewati maka semakin banyak sekali persoalan yang muncul termasuk dalam hal agama. Banyak sekali persoalan yang menimbulkan perbedaan yang membutuhkan rujukan langsung dari para Tabi'ut Tabi'in yang hendaknya memiliki gelar ulama Mustahid, harus memiliki kepahaman ilmu dan luasnya pemahaman, yang mana bahkan di zaman Rasullullah saja sangat jarang sahabat Nabi yang mampu dimintai Fatwa.
1. Imam Mazhab Abu Hanifah
Abu Hanifah dilahirkan di kota Kufah pada tahun 80 H/699 M. Demikianlah menurut riwayat yang masyhur. Nama beliau yang sebenarnya mulai dari kecil ialah Nu'man bin Tsabit bin Zauta bin Mah. Dengan ini teranglah bahwa beliau bukan keturunan dari bangsa Arab, melainkan beliau dilahirkan di tengah tengah bangsa Persia. Beliau wafat pada 150 Hijriah. Yang mana beliau memiliki Bisyarah ( Kabar Gembira ) Dimana Rasullullah bersabda, "Andaikan Agama itu bergantung diatas bintang - bintang niscaya akan dijamah oleh seseorang dari putra persi." Dimana semua orang mengira bahwa yang dimaksud oleh Rasullullah adalah Nu'man bin Tsabit yang pada saat itu merupakan keturunan dari bangsa Persia, dimana Sang Ayahanda merupakan seorang keturunan Persia ( Kabul, Afganistan). Tetapi sebelum beliau dilahirkan, ayahnya sudah pindah ke Kufah. Teranglah bahwa beliau bukanlah bangsa Arab asli, dan dari sinilah keistimewaan beliau yang mana bahkan sebelum kelahirannya pun telah Rasullullah umumkan kehadirannya. Beliau tumbuh dan masih bertemu para Sahbiyahnya Rasullullah diantaranya Sayyidina Anas bin Malik, Abdullah bin Anas yang mana beliau pula dijuluki 'Sum - sumnya Ilmu', sehingga beliau termasuk ke dalam zaman yang terbaik, Zaman Tabi'in. Beliau berguru dengan cicit dari Rasullullah Shalallahu'alaihi.
2. Imam Mazhab Malik
Abu Abdullah Malik ibn Anas ibn Malik ibn ‘Amr ibn al Harits, beliau lahir tahun 903 Hijriah Wafat 190 Hijrah. Merupakan seorang yang memiliki 900 guru dari kalangan Tabi'in dan Tabiu't Tabi'in. Kakeknya merupakan salah satu dari sekian orang yang memandikan sahabat Rasullullah, Ustman. Pun juga terlibat dalam perang Badar. Rasullullah bersabda, "Diriwayatkan daripada Abu Hurairah, 'Hampir datang suatu masa dimana orang - orang berpergian keluar dari negerinya dalam rangka mencari ilmu, kemudian mereka tidak akan menemukan seorang yang lebih alim daripada seorang alim dari Madinah."
Banyak para ulama bahwasanya yang dimaksud dalam Hadistnya Rasullullah ini merujuk kepada Imam Malik, dimana pada zaman beliau Imam Malik merupakan sosok yang paling alim kala itu. Imam Malik memiliki keutamaan sebagai seorang yang sangat perhatian terhadap penampilan, namun tetap rendah hati dan tidak menyombongkan ilmunya. Ia sangat senang mengenakan pakaian yang rapi dan berkualitas tinggi. Ia berucap “Aku tidak suka seseorang yang diberi nikmat oleh Allah kecuali orang itu menampakkan bekas nikmat tersebut. Khususnya para ulama, mereka harus menampakkan muru’ah dan kehormatannya melalui pakaiannya. Hal itu untuk menghormati ilmu.”
Beliau memiliki adab yang sangat baik, termasuk dalam mengajarkan ilmunya kepada para murid dalam belajar hadits Rasullullah, beliau memakai wewangian dan memakai baju yang kebesaran, dimana tak pernah sekalipun ketika mengajar hadist beliau duduk di bawah karena rasa penghormatan. Beliau pula tak pernah mau menginjak tanah Madinah dengan menggunakan alas kaki dan memakai tunggangan, baginya Tanah dari tempat Rasullullah tak pantas untuk ditapaki dengan alas kaki pun juga tunggangan sekalipun. Dari sinilah Allah tunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu hendaknya memelihara adab, demi mendapat kemuliaan, karena sebesar apapun adab kita maka sebesar itu pula kemanfaatan ilmu yang akan kita dapat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena ketika kita meminta hal yang baik termasuk dalam keluasan dan keberkahan ilmu, maka kita harus memelihara pula adab yang baik. Adab sebelum kita menuntut ilmu, adab saat kita menuntut ilmu dan adab saat mendapatkan ilmu.
Apapun yang kita gunakan untuk menuntut ilmu hendaknya perlakukan dengan adab yang baik, agar Allah muliakan kita dalam menuntut ilmu Allah.
3. Imam Syafi'i
Muhammad bin Idris As - Syafi'i, beliau lahir pada tahun 150 Hijriah dan wafat tahun 204 Hijriah. Beliau telah menghafal Al - Qur'an sejak umur 7 tahun, telah menghafal kitab dari sang guru Imam Malik pada umur 10 tahun yang berisi hadist - hadist Rasullullah yakni kitab Hadits Al - Muwatha dan pada umur beliau yang ke 15 beliau menjadi seorang mufta, inilah bukti bahwa sosok imam yang memberikan rujukan merupakan sosok - sosok yang luar biasa. Imam Syafi’i merupakan satu-satunya Imam Mazhab dari keturunan Quraisy. Nasabnya tersambung kepada Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam melalui ‘Abdul Manaf. Sebelum lahir, ia telah mendapatkan bisyaroh dari Rasullullah Muhammad Shalallahu'alaihi Wassallam,
عَالِمُ قُرَيْشٍ يَمْلَأُ طَبَاقَ اْلاَرْضِ عِلْمًا
"Ada seorang yang alim dari Bangsa Quraisy yang ilmunya memenuhi lapisan bumi.”
4. Al - Imam Ahmad bin Hambal
Seseorang yang telah menghafal lebih dari ribuan hadist, yang mana beliau merupakan ahlul hadits yang sangat Zuhud kepada dunia. Di riwayatkan Ibnu Jauzi menuturkan sebuah kisah, “Bahwa pada suatu malam, Imam Syafi’i bermimpi bertemu Rasullullah Shalallahu'alaihi Wasallam dan memerintahnya agar menyampaikan salam beliau kepada Imam Ahmad ibn Hanbal.
Kesokan harinya, Imam Syafi’i memerintahkan Rabî’ ( murid beliau ) agar membawakan surat menemui Imam Ahmad ibn Hanbal. Rabî’ bergegas pergi menuju kota Baghdad dan menyerahkan surat tersebut, setelah membacanya, Ahmad meneteskan air mata.
Rabi’ bertanya kepadanya, ‘Ada apa di dalamnya wahai Abu Abdillah ?’ Imam Ahmad menjawab ‘Beliau menyebut bahwa beliau melihat Rasullullah dalam mimpi dan berkata kepadanya, ’Tulislah surat kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan katakan, ‘Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa Al - Qur'an itu makhluq, maka jangan engkau turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat."
Dan inilah 4 Mazhab yang menjadi rujukan yang mana salah satu dari setiap orang berhak memilih salah satu sebagai rujukan.
Kemudian satu hadits yang menjadi pegangan bagi kita semua, Rasullullah bersabda, "Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kumpulan yang banyak di dalam kesesatan, ketika kamu berada pada zaman dengan banyaknya perselisihan, maka kamu hendaknya mencari golongan terbesar dan yang paling banyak."
Inilah yang menjadikan kita untuk memilih Ahlul Sunnah Wa Jama'ah, yang mana yang lainnya lebih sedikit daripada Ahlul Sunnah Wa Jama'ah. Dimana Ahlul Sunnah Wa Jama'ah merupakan golongan yang paling banyak di dunia dan mengikuti Rasullullah. Rasullullah Shalallahu'alaihi pula bersabda, "Aku telah memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar tidak menghimpunkan umat bersepakat dalam suatu kesesatan, dan Allah mengabulkan permohonan itu kepadaku."
Dan keempat ulama yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah Wa Jama'ah, merupakan sosok - sosok yang luar biasa, yang merangkum manhaj Nabi ( Tuntunan Nabi ) dan diselamatkan oleh keempat imam ini. Dimana Mazhab mereka bukan berisi pendapat mereka pribadi, bukan tuntunan mereka pribadi namun mereka merangkum serta memilih dari tuntunan Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, yang tak akan mungkin bagi kita pada saat ini untuk meniru dalam beribadah semirip mungkin dengan Rasullullah sedangkan kita saja tak pernah bertemu ataupun melihat Rasullullah. Karena kita tidak mungkin mendapati ajaran Rasullullah yang murni kecuali melewati salah satu dari keempat para imam Mazhab. Yang lainnya tak benar - benar bisa dibuktikan kemurnian ilmunya, serta sosok - sosok Imam yang mendapatkan Bisyarah ( Kabar Gembira, penyambutan sebelum mereka lahir ) yang tentu menjadi bukti bagi mereka untuk patut kita pilih sebagai rujukan diantara keempatnya.
Catatan : Orang - orang yang memikirkan untuk mencampur adukkan Mazhab maka telah ia buktikan kedangkalan ilmu yang ada dalam dirinya. Karena sejak dulu orang - orang berilmu tak akan mungkin ingin mencampur adukkan Mazhab. Adapun ketika terbersit untuk mencampur adukkan Mazhab karena adanya hawa nafsu, maka ibadah yang kita jalani belum tentu karena Allah, ia tunduk kepada hawa nafsunya. Bahkan ketika kita mencampur adukkan Mazhab seperti itu tak akan mungkin terbentuk ibadah yang teratur. Namun dalam keadaan tertentu kita boleh untuk mengambil salah satu hukum terbaik dari keempat Mazhab kecuali dalam keadaan darurat itupun perlu tuntunan dari para guru, para ulama, tidak bisa main mengikuti dengan asal.
Di Indonesia ini lebih banyak sekali para ulama yang mayoritas memilih Mazhab Imam Syafi'i, sangat jarang ditemukan guru yang bisa mengajarkan secara sempurna Mazhab selain daripada imam Syafi'i. Maka akan sangat sulit bagi kita untuk lebih memilih Mazhab lain sedangkan sudah sangat jarang guru di Indonesia dan para ulama yang bermazhab selain imam Syafi'i. Kita harus lebih berhati - hati dan meragu apabila mengikuti seorang yang justru tidak bermazhab, maka wajib bagi kita untuk mengikuti pendapat para ulama dan bersanad agar terbukti kemurniannya.
Dan keempat ulama yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah Wa Jama'ah, merupakan sosok - sosok yang luar biasa, yang merangkum manhaj Nabi ( Tuntunan Nabi ) dan diselamatkan oleh keempat imam ini. Dimana Mazhab mereka bukan berisi pendapat mereka pribadi, bukan tuntunan mereka pribadi namun mereka merangkum serta memilih dari tuntunan Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, yang tak akan mungkin bagi kita pada saat ini untuk meniru dalam beribadah semirip mungkin dengan Rasullullah sedangkan kita saja tak pernah bertemu ataupun melihat Rasullullah. Karena kita tidak mungkin mendapati ajaran Rasullullah yang murni kecuali melewati salah satu dari keempat para imam Mazhab. Yang lainnya tak benar - benar bisa dibuktikan kemurnian ilmunya, serta sosok - sosok Imam yang mendapatkan Bisyarah ( Kabar Gembira, penyambutan sebelum mereka lahir ) yang tentu menjadi bukti bagi mereka untuk patut kita pilih sebagai rujukan diantara keempatnya.
Catatan : Orang - orang yang memikirkan untuk mencampur adukkan Mazhab maka telah ia buktikan kedangkalan ilmu yang ada dalam dirinya. Karena sejak dulu orang - orang berilmu tak akan mungkin ingin mencampur adukkan Mazhab. Adapun ketika terbersit untuk mencampur adukkan Mazhab karena adanya hawa nafsu, maka ibadah yang kita jalani belum tentu karena Allah, ia tunduk kepada hawa nafsunya. Bahkan ketika kita mencampur adukkan Mazhab seperti itu tak akan mungkin terbentuk ibadah yang teratur. Namun dalam keadaan tertentu kita boleh untuk mengambil salah satu hukum terbaik dari keempat Mazhab kecuali dalam keadaan darurat itupun perlu tuntunan dari para guru, para ulama, tidak bisa main mengikuti dengan asal.
Di Indonesia ini lebih banyak sekali para ulama yang mayoritas memilih Mazhab Imam Syafi'i, sangat jarang ditemukan guru yang bisa mengajarkan secara sempurna Mazhab selain daripada imam Syafi'i. Maka akan sangat sulit bagi kita untuk lebih memilih Mazhab lain sedangkan sudah sangat jarang guru di Indonesia dan para ulama yang bermazhab selain imam Syafi'i. Kita harus lebih berhati - hati dan meragu apabila mengikuti seorang yang justru tidak bermazhab, maka wajib bagi kita untuk mengikuti pendapat para ulama dan bersanad agar terbukti kemurniannya.
Sungguh mereka yang tidak memiliki keyakinan pada salah satu Mazhab, mereka mau berguru namun tak memahami sanad - sanad, sampai tidak mau memilih Mazhab padahal guru - guru yang meraka ikuti tersebut, bahkan mengikuti Mazhab. Karena sungguh seseorang yang tidak mau mengikuti Mazhab, maka mereka telah mengikuti hawa nafsu dan kebodohannya. Maka untuk memberikan solusi bila kita menemukan seseorang yang tidak ingin mengikuti salah satu dari keempat Mazhab, tanyakan padanya, "Bukankah Rasullullah itu Umi, ia tidak menulis sedangkan yang kita pelajari, yang kita pegang adalah sebuah tulisan, lalu bagaimana engkau meyakini bahwa sesuatu yang engkau peggang dan genggam kini benar berasal dari Rasullullah ?" tanyakan kepada apakah mereka sendiri belajar langsung dengan Rasullullah ?.
Fakir Ilmu 🥀
Comments
Post a Comment