Membahas Perbedaan Aqidah Ahlussunah wal Jamaah dan Mazhab

 


*AQIDAH 1*

_Ustadzah Muna Al - Munawwar_

#MAJLIS BALE-BALE

Materi : Membahas Perbedaan Aqidah Ahlussunah wal Jamaah dan Mazhab

Bagi siapapun yang ingin diberikan jalan yang benar oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka perlu kepastian, perlu keseriusan dan perlu keistiqomahan untuk mengarunginya. Sebagaimana kita beriman kepada Allah dan Rasullullah, yang mana perlu penjagaan, dan untuk menjaga iman ini kita perlu memiliki aqidah. Aqidah yang memiliki arti berupa tali pengikat antara seorang hamba dengan Tuhannya, ikatan ini haruslah kuat diibaratkan sebagaimana sebuah bangunan yang apabila pondasi dasarnya tak kokoh maka bangunannya akan hancur. Seperti halnya agama yang perlu keyakinan yang kokoh, bagaimana kita mengimani Allah dengan iman yang benar, bagaimana kita mengenal dzat Allah dengan benar, dimana banyak sekali hal - hal yang mulai menjerumuskan. Diantara hamba - hamba Allah ada beberapa yang memperjuangkan keimanannya, ada pula yang tidak lagi memperjuangkan imannya sendiri, mereka biarkan iman mereka menghilang sebagaimana debu yang berterbangan. Maka marilah kita memperkuat iman dengan mengenal aqidah lebih baik, dan memohon kepada Allah agar memberikan pemahaman, mengaruniakan pertolongan kepada kita untuk lebih memperkokoh iman dizaman yang penuh fitnah ini. Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam bersabda,

ليأتينَّ على أمَّتي ما أتى على بني إسرائيل حَذوَ النَّعلِ بالنَّعلِ ، حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَ ، وإنَّ بَني إسرائيل تفرَّقت على ثِنتينِ وسبعينَ ملَّةً ، وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابي

"Umatku akan mengalami apa yang dialami oleh Bani Israil, seperti sejajarnya sandal dengan pasangannya, hingga apabila ada di antara mereka itu yang menyetubuhi ibunya secara terang - terangan, niscaya di antara umatku akan ada yang berbuat demikian. Dan, sungguh Bani Israil sudah berpecah belah menjadi 72 golongan, sedangkan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; semuanya di Neraka, kecuali satu golongan". Para Sahabat bertanya, "Siapakah mereka, Wahai Rasullullah ?" Maka beliau meniawab, "Yaitu mereka yang berada di ajaranku dan para Sahabatku."

Maka haruslah kita perhatikan apakah jalan kita telah meniru jalannya Rasullullah serta para Sahbiyahnya. Karena terbukti di zaman yang mendekat akhir zaman ini banyak sekali golongan - golongan yang tak lagi mengikuti jejak Rasullullah, dimana golongan yang mengikuti Rasullullah dan para Sahbiyah disini adalah Ahlul Sunnah Wa Jama'ah. Ahal diartikan sebagai, Sunnah artinya ajaran Rasullullah dan WA Jama'ah adalah para Sahbiyah Rasullullah. Ajaran ini merupakan ajaran yang mengikuti jejak Rasullullah, memegang teguh ajaran beliau pun juga memegang teguh ajaran para Sahbiyah, para Tabiin ( Golongan yang mengambil ilmu dari para Sahbiyah ). Sebagaimana Rasullullah mengatakan, "Yang terbaik dari kalian adalah orang - orang yang hidup di zamanku ( sahabat ), kemudian orang - orang setelah mereka ( tabi’in ), kemudian orang-orang setelah mereka ( at-tabiit taabi’in )."

Golongan Terbaik, yaitu :

1. Golongan yang ada di zaman Rasullullah

2. Golongan Tabi'in, golongan yang hidup setelah Rasulullah, mereka tidak pernah bertemu dengan Rasullullah, namun pernah berjumpa dengan para Sahbiyahnya.

3. Golongan Tabiu't Wa Tabi'in, golongan yang mengikuti para Tabi'in.

Dalam segi Aqidah golongan Ahlul Sunnah Wa Jama'ah, merupakan golongan yang merujuk kepada Al Imam Abul Hasan Al -  Asy'ari, kemudian Al Imam Abul Masyur Al - Maturi. Yang mana Aqidah beliau berdasarkan Al - Qur'an dan Sunnah, sedangkan Syar'iat mengikuti salah dari 4 imam Mazhab fiqih, Al Qur'an, Sunnah, Kesepakatan para Ulama, dan hukum Qiyas ( Hukum yang diambil dari kiyasan hukum Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, misalnya pada zaman dulu anggur merupakan hal yang memabukkan, sedangkan dizaman ini banyak sekali hal - hal yang memabukkan selain daripada anggur, maka diqiyaskan, hukumnya semua yang memabukkan.

Jalannya para Salaf itu meliputi 6 hal, yaitu :

1. Ilmu

2. Amal

3. Rasa Takut kepada Allah

3. Al - Waro ( Berhati - hati dalam setiap perkara, mereka berhati - hati dalam menjalani ibadah kepada Allah )

4. Al - Ikhlas

5. Tazkiyatun Nafs, pensucian hati 


Biografi Al - Imam Abul Hasan Al - Asy'ari ( Aqidah As - Sy'ariah ) :

Al - Imam Abul Hasan Al - Asy'ari, beliau ada

adalah salah satu tokoh yang menjadi salah satu figur bagi para Ahlul Sunnah Wa Jama'ah, yang pastinya merujuk kepada Rasullullah dan para Sahbiyahnya. Beliau tidak membuat Aqidah baru, tetapi beliau justru melawan  golongan - golongan yang menyimpang dari Aqidah Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam, dan meneguhkan Aqidah Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam. Beliau benar - benar memperjuangkan dengan berbagai macam argumentasi. Beliau merupakan keturunan dari salah satu sahabat Rasullullah yakni Abi Musa Al - Asy'ari. Yang merupakan sahabat Rasullullah yang berasal dari Yaman, beliau memiliki suara yang begitu indah, dimana pernah kala Rasullullah pernah mendengar suara Abi Musa yang tengah melantunkan ayat suci Al - Qur'an yang begitu indah dan membuat Rasullullah memuji beliau dengan mengatakan, "Sesungguhnya engkau diberikan keindahan suara sebagaimana indahnya suara Nabiullah Daud Allaihi Sallam."

Rasullullah juga pernah memberikan kabar gembira kepada Abi Musa, dimana beliau membaca salah satu ayat yang memiliki arti, "Kelak akan datang suatu kaum dimana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah." Rasullullah pun mengatakan kepadanya kala itu, "Mereka adalah kaummu wahai Abu Musa."

Maka dari sini kita telah mengetahui bahwa Imam Al Hasan Abul Musa Al - Asy'ari bukanlah tokoh yang berasal dari keturunan biasa, bahkan sosoknya pun bukanlah sosok yang biasa. Banyak sekali jasa beliau yang membantah setiap pemikiran yang menyimpang dari jalannya Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam kemudian meluruskan daripada pemahaman yang menyimpang dari ajaran Rasullullah, dimana zamannya kala itu banyak sekali orang - orang yang menyimpang, Kaum Mujassimah ( Mereka menyamakan Allah dengan makhluk ) , Kaum Khuwarij ( Golongan yang mudah mengkafirkan seorang muslim ), Kaum Muqtazilah ( Mereka memahami agama hanya dengan akal mereka, mereka menuhankan akal mereka tanpa mau merujuk dari dasar Al - Qur'an ataupun Hadist. Mereka memutuskan suatu perkara dalam agama berdasarkan argumen maupun analisa mereka, enggan menerima takdir, yang mana menganggap bahwa orang berdosa itu tak akan pernah masuk kedalam surga mereka akan kekal dalam neraka meskipun telah bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, mereka pula mengatakan bahwa Al - Qur'an adalah makhluk yang mana padahal Al - Qur'an adalah Kalamullah, kalam-Nya Allah ) 

Namun yang perlu kita ketahui, dulu Al Imam Abul Hasan merupakan sosok yang pernah menjadi golongan Mustazilah selama 40 tahun sampai suatu saat terdapat keraguan didalam hatinya yang membuat beliau bertanya kepada gurunya kala itu, yang mana dijawab oleh gurunya dengan pemikiran akal bukan sesuai dengan dalil Al - Qur'an maupun hadist. Bertanya Imam Al - Asy’ari kepada Al - Jubbai, “Bagaimana pendapat guru mengenai nasib 3 orang yang meninggal, dengan pembagian 3 orang tersebut adalah 1 orang mukmin, 1 orang kafir dan 1 orang lagi berupa anak kecil yang umurnya belum baligh ?" Dijawab oleh sang guru, Al - Jubbai, “Keadaan orang mukmin tersebut adalah tinggi derajatnya, dan untuk orang kafir berada dalam celaka, dan si anak kecil akan dalam keadaan selamat."

Bertanya kembali Imam Al - Asy’ari kepada Al - Jubbai, “Lalu apa memungkinkan si anak kecil tersebut dapat naik derajatnya dengan meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala." “Tentunya tidak, karena seorang mukmin tersebut diangkat derajatnya oleh Allah SWT karena dia telah melakukan amal saleh sehingga Allah mengangkat derajatnya, berbeda dengan si anak kecil yang belum beramal saleh yang berkemungkinan besar tidak akan mendapat derajat tinggi di sisi Allah SWT,” jawab Al - Jubbani. Tidak puas dengan jawaban tersebut, bertanya kembali Imam Al - Asyari kepada gurunya, “Lalu bagaimana seandainya si anak kecil tersebut datang dan berprotes kepada Allah SWT dan menggugat atas kehendak Allah SWT yang telah mentakdirkan si anak kecil meninggal di usianya yang belum sempat beramal saleh, seandainya Allah memberi si anak kecil ini umur panjang, pastilah akan ada kesempatan baginya beramal saleh sehingga mendapatkan derajat yang tinggi seperti orang mukmin tadi ?"

Berkata lagi Al - Jubbai, “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkata kepada si anak kecil tersebut, Wahai anak kecil sesungguhnya Akulah Dzat Yang Maha Mengetahui, termasuk akan kelak masa depanmu karena jikalau usiamu hingga dewasa nantinya dikhawatirkan engkau akan berbuat maksiat hingga menjerumuskanmu ke dalam api neraka." Pernyataan yang diutarakan oleh Al -Jubbani sama sekali tidak membuatnya berhenti bernalar kritis akan hal tersebut.

Kemudian disanggah lagi oleh Imam Al - Asy’ari, “Wahai guruku, tidakkah pastinya orang kafir tersebut juga akan menggugat kepada Allah dengan alih - alih yang Maha Mengetahui masa depan si anak kecil, Allah mematikan si anak kecil demi menjaganya agar tidak berprilaku maksiat tapi mengapa Engkau ( Allah ) membiarkan kami ( kafir ) hidup terus berada dalam kekafiran sehingga mendapatkan siksaan ini."

Yang mana disanalah gurunya tak bisa menjawab apapun lagi. Dan saat itulah timbul keraguan, yang membuat beliau kembali kepada jalan yang benar. Beliau bimbang kala itu dan melakukan shalat 2 rakaat serta meminta petunjuk kepada Allah, setelahnya beliau tertidur dan dalam tidurnya itu beliau bermimpi bertemu dengan Rasullullah dan menyampaikan segala kegundahannya kepada Rasullullah, yang langsung Rasullullah memberikan pesan bagi beliau, "Engkau harus kembali kepada Sunnah ku yang benar, engkau harus kembali kepada jalanku yang benar." Beliau pun terbangun dan merujuk kembali kepada Al - Qur'an dan hadits, disanalah beliau menemukan penyimpangan dan keluar dari golongan Al Muqtazilah diumurnya yang ke 40 Tahun, beliau naik ke mimbar dan mengatakan, "Aku keluar dari golongan Muqtazilah sebagaimana aku melepaskan jubahku ini."

Beliau melawan segala ajaran menyimpang saat itu yang banyak bersebaran membantahnya dengan segala argumen yang beliau miliki, beliau membantah para golongan yang dengan mudahnya mengkafirkan seorang muslim yakni golongan orang Khuwarij. Mereka memegang prinsip bahwa membunuh orang muslim yang kafir itu ialah jihad. Banyak sekali zaman ini yang mulai bersebaran golongan - golongan dari kaum tersebut. Mereka mengubah Islam yang merupakan Rahmat Lil Al-Amin menjadi ajaran yang penuh dengan kebencian. Adapun beberapa ciri dari golongan kaum Khuwairij, yaitu :

1. Mengkafirkan orang Islam yang tidak sejalan dan sepaham dengan mereka, sehingga mereka menghalalkan darah orang muslim dengan melakukan pembunuhan. Mereka tidak menganggap seorang muslim sebagai saudara mereka sendiri dengan menyibukkan diri memerangi saudaraa semuslim, mereka sibuk menghina dan memerangi orang Islam, namun ketika melihat orang kafir mereka justru menutup mata. Rasullullah mengatakan, "Nanti sepeninggalanku akan muncul suatu kaum yang begitu pandai membaca Al - Qur'an, tapi Al Qur'an itu tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busur, dan sungguh mereka tidak akan pernah lagi kembali kedalam agama Islam, merekalah seburuk - buruknya makhluk, sejahat - jahatnya akhlak." 

Imam Abul Hasan Al - Asy'ari, sampai di penghujung umur beliau berkata, "Saksikanlah Aku tidak pernah mengkafirkan satu orang pun dari golongan umat Islam."


Biografi Al Imam Abu Mansyur Al - Maturidi ( Aqidah Al - Maturidiah ) :

Al Imam Abu Mansyur Al - Maturidi, merupakan keturunan salah satu seorang sahabat Rasullullah, yaitu rumah Abu Ayub Al - Anshori. Beliau mendapat julukan sebagai pemimpin golongan Alhul Sunnah, beliau lahir didaera Usbaikistan, beliau wafat pada usia sekitar 100 tahun dan dimakamkan didaerah Samarqhan. Beliau menyampaikan ajaran dengan akal yang mana adakalanya akal itu hendaknya tunduk kepada Al - Qur'an dan Hadist. Beliau datang dan merapikan serta meluruskan kembali segala sesuatu yang menyimpang dari jalannya Aqidah Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam. Yang pastinya jalan mereka merupakan jalan yang paling dekat kepada kebenaran.

Kemudian dari golongan Syar'iat, Ahlul Sunnah Wa Jama'ah ini mengikuti daripada 4 Mazhab Fiqih, Al - Qur'an, Hadist. Yang mana Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا 

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul ( Muhammad ), dan Ulil Amri ( pemegang kekuasaan ) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah ( Al - Qur'an ) dan Rasul ( sunnahnya ), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya."


Adapun alasan bermazhab, yaitu :

1. Karena kita tidak hidup dizaman Rasullullah, Yang mana semakin jauh dari zaman Rasullullah akan semakin banyak perbedaan yang akan menimbulkan pemahaman yang menyimpang sehingga diperlukan rujukan sesuai dengan rujukan Al - Qur'an dan hadits. Kita harus memiliki ilmu pengetahuan dalam perkara agama yang memang bersambung dengan sanad Rasullullah Shalallahu'alaihi Wassallam.

2. Semakin jauh dari masanya Rasullullah, semakin luas daerah yang mengenal Islam,  dan semakin menyebar Islam maka pastinya akan semakin banyak persoalan yang muncul yang belum tentu di zaman Rasullullah itu ada namun di zaman ini justru muncul. Salah satu contoh persoalan misalnya adanya harokat untuk Al - Qur'an dan hadist agar orang - orang selain daripada orang yang paham sanggup membaca pun memahaminya. Dimana untuk memahaminya kita butuh lebih daripada 10 ilmu yang mendukung bukan hanya sekedar terjemahan semata, yang belum tentu kita memahami makna didalamnya. Maka kita perlu merujuk kepada orang - orang yang memang memumpuni ilmunya dan bersambung dengan sanad Rasullullah karena seandainya tidak bersambung dengan Rasullullah bagaimana kita akan mengetahui betul kebenarannya. 

Inilah sebab mengapa kita harus mengikuti salah satu daripada Mazhab, yang mana ada beberapa sekali dizaman ini yang memiliki ulama - ulama yang tidak termasuk golongan ulama Mustahid, para ulama madzhab, yang menghafal ribuan hadist, dimana Mazhab ini sifatnya terbagi 2 yakni, 

1. Ada satu dalil satu contoh ( Menunjukkan hal tersebut mudah dilakukan oleh siapapun dan tidak ada alternatif untuk melakukannya, ini bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam, semua orang bisa melakukannya ),

2. Ada banyak dalil beraneka macam contoh, ( Misalnya berbagai macam cara membaca Al - Fatihah dalam berbagai macam shalat wajib yang pernah dicontohkan oleh Rasullullah, dan ada sekitar 70 hadist yang membahas persoalan hal tersebut. Dan dalam hal ini kita boleh mengikuti salah satu dan kita tidak boleh bermain - main dalam mengikutinya, dimana kecenderungan seseorang dalam mengikuti suatu praktek dalam beribadah itu dinamakan Mazhab, dimana Mazhab ini diibaratkan sebagai banyaknya pilihan yang menyampaikan pada satu jalur, satu tuntunan Rasullullah. Apabila kita tidak diatur dengan Mazhab maka kita merupakan orang yang tidak memiliki pengangungan kepada Allah, kita tidak diatur dan pada akhirnya akan terjerumus dengan mempermainkan agama sesuai dengan hawa nafsu kita ) 

Mayoritas negara Indonesia ini merujuk kepada Mazhab Imam Syafi'i yang memang pada saat itu banyak sekali ulama yang memang bermazhab Syafi'i termasuk para Wali Songo maka tersebarlah pemahaman daripada Mazhab Syafi'i di Indonesia.


- Fakir Ilmu - 

Rabu, 09 Februari 2022 

Comments

Popular posts from this blog

EMPOWERMENT : HIKMAH DALAM KISAH

AKHLAK - USTADZAH SAMIRA ALHABSYI

AKHLAK - USTADZAH SAMIRA AL-HABSYI